My Thought

UncategorizedJune 8, 2011 5:50 pm

Saya mendapat hadiah buku lagi. Isinya, kumpulan tulisan ringan seorang kolumnis, yang rutin dimuat di sebuah surat kabar nasional.
Saya belum bisa memastikan, kapan saya ada waktu untuk membacanya secara serius.
Tetapi, karena saya selalu suka buku, maka malam itu juga, saya membaca cepat isinya.
Salah satu yang menyangkut di mata saya adalah tulisan ringan soal kereta api.
Tulisan itu membuat saya teringat, kali terakhir saya naik kereta api. Perjalanan menyenangkan, tetapi sekaligus menyebalkan.
Waktu itu pertengahan Juli 2010. Oleh seorang mantan pejabat, saya diundang untuk ikut menghadiri sidang doktoralnya di Yogyakarta.
Mantan pejabat itu menyewa satu gerbong khusus untuk mengangkut para tamu agar bisa hadir di momen berharganya itu.
Tak terkecuali istri, anak, cucu, kolega, dan sejumlah pejabat, ikut di gerbong eksekutif kereta api itu.
Kalau dibayangkan, perjalanan seharusnya menyenangkan. Sebab, selain penumpang di satu gerbong itu kebanyakan saling kenal, saya juga sudah cukup lama tidak pernah naik kereta api.
Begitu lamanya, sehingga saya lupa soal pelayanan kereta api. Termasuk pelayanan makanannya.
Maka ceritera dimulai ketika saya kelaparan pada pukul 11.00. Sebagai orang yang tidak suka mengudap sarapan, saya biasa kelaparan pada pukul 11.00.
Jam yang sangat tanggung, karena pada waktu itu umumnya makanan untuk sarapan sudah tidak disediakan, sementara itu makanan untuk siang hari belum tersedia.
Tetapi, dengan keyakinan gerbong itu disewa khusus oleh pejabat, saya sedikit berharap bisa mengorder makanan.
Sayang seribu kali sayang, saya kali itu terlalu yakin. Karena, jangankan panganan, secangkir kopi pun saya ternyata tidak bisa pesan.
“Ibu sudah pesan dari jam berapa?” Tanya si pelayan restoran kereta api.
“Ini baru pesan,” jawab saya.
“Wah, ibu, yang pesan sejak pukul 09.00 saja, sampai sekarang belum terlayani semua. Sebab, piring dan gelasnya belum ada. Masih pada digunakan tamu,” ujar sang pelayan lagi.
Saya melirik jam, waktu menunjuk pukul 11.30.
Dia lalu menjelaskan panjang lebar, bahwa persediaan gelas, piring di kereta api terbatas. Dan banyak penumpang, tidak segera mengabiskan makanan dan minumannya, begitu order datang.
“Jadi saya harus menunggu sampai pukul berapa, supaya bisa mendapatkan makanan?” Tanya saya.
Pelayan itu hanya tersenyum. “Ibu, nanti di stasiun Purwokerto, kereta api biasanya berhenti. Ibu bisa turun dan beli makanan. Tapi harus cepat, karena kereta berhenti tidak lama,” kata pelayan itu.
Saya menatap dia dalam-dalam. Mencoba menemukan makna, dia tidak serius dengan perkataannya. Tapi, dia terlihat serius!
“Mas,” ujar saya kemudian. “Saya sudah lama tidak naik kereta api. Dan saya buta wilayah sini. Saya lebih baik kelaparan, ketimbang ditinggal kereta. Saya order sama mas saja!”
Dia tersenyum. “Oh, baik bu. Agak sore tidak apa kan?”
Saya diam saja. Dalam hati saya menggerutu. kenapa susah sekali mengganti piring dan gelas kaca dengan piring dan gelas plastik atau kertas sekali pakai untuk penumpang. “ARRRGGGGHHHH!!!” Jadilah perjalanan itu membuahkan masuk angin untuk saya. Tut Tut TUUUUUT….

UncategorizedJanuary 30, 2011 12:42 pm

Di depan saya, tergeletak dua tiket menuju satu kota yang pernah saya ingin pergi bersamanya. Seharusnya, saya dan dia akan berangkat dua hari dari sekarang.
Di depan saya, tergeletak dua tagihan kamar hotel yang kemarin saya ingin pergi bersamanya. Seharusnya, saya dan dia bisa bermalam dua hari di sana.
Tapi, sekarang semua buyar.
Semua hadiah, kejutan –yang saya siapkan tapi tak pernah dan tampaknya tak perlu lagi saya sampaikan– kacau.
Sebab-sebabnya? Entahlah….
Saya lebih suka mengoreksi, terkadang menyalahkan, diri sendiri. Anggap saja, memang saya yang mengacaukan semuanya.
Dan memang saya yang membuatnya. Lihat saja, bagaimana sekarang, yang tergeletak di depan saya. Selain semua tagihan, ada satu telepon pintar yang terjatuh di dekat got depan rumah saya, gara-gara saya terjatuh dari sepeda, pagi tadi. Sinyalnya pun nyala mati-nyala mati.
Yah, biarlah. Saya anggap saja: hari-hari yang biasa.
Hari-hari yang bergulir tanpa rencana. Tanpa keinginan.
Saya belajar…belajar dari apa yang terjadi. Sakit, terjatuh, dan kecewa, karena sebuah harapan, keinginan, yang membuncah. Yang saya gantungkan pada sebuah bahu fatamorgana.
Mungkin, hidup tanpa harapan dan keinginan apa-apa dari orang lain, akan lebih baik. Anggap saja begitu, agar tidak pernah kecewa lagi.
Berjalan saja di atas kedua kaki sendiri. Melakukan dengan kedua tangan sendiri. Melalui hari-hari yang biasa….
Bukankah….(akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui–Soe Hok Gie)

UncategorizedJanuary 24, 2011 12:59 pm

I can move beyond the fear factor. I don’t know where I’m going, and I don’t care where I’ve been. I only know that, as the hero of my own story, it’s for me to find out. For, like Alice, I’m on the verge of stepping into a rabbit hole; unless I stop short and play it safe, I’ll know soon enough where following my own feet has landed me on this curious venture. The blissful frailty of unwritten conclusions and unguarded access sweetens the desire. So despite familiar warnings, irresistible promise draws my eyes wide open and away from domestic comfort zones, with only certain inquiry, hope and faith to recommend my course. I’ll never know until I try.”

UncategorizedDecember 23, 2010 7:49 pm

Saya sempat membaca secara sepintas, sebuah buku yang baru dipegang oleh teman saya.
Buku mengenai bagaimana wartawan sebuah kantor berita di Amerika Serikat berdisiplin menuliskan beritanya.
Tidak boleh ada makna berganda.
Semua yang membaca berita publikasi kantor berita tersebut, harus satu makna.
Dan mereka ketat, memegang norma tersebut.
Lalu sebelumnya, saya pernah mendengar, seorang yang saya anggap sebagai guru — saya penikmat tulisannya setiap dua Sabtu — bahwa menulis adalah berpikir.
“Writing is thinking,” ujarnya.
Dari semua teori itu, saya memandang, menulis tidak hanya berpikir, tetapi juga memberikan makna pada setiap kata.
Mengatur alur logika. Agar tidak ada arti berganda.
Jangan biarkan mereka yang membaca, tidak terbawa makna tulisan.
Pembaca harus ikut serta dalam pikiran penulis. Seolah itu adalah pengalaman mereka sendiri.
Sehingga isi tulisan, secara suka rela, akan dijadikan argumen mereka dalam pengambilan sikap. Bahkan, seolah bagai pengalaman empiris mereka dalam pengambilan keputusan.
Dan semuanya berawal dari kata, biarkan mereka berwujud jadi makna…

UncategorizedDecember 20, 2010 7:13 pm

Keruwetan, keluh kesah, adalah bagian dari pencerahan.
Kemampuan mendengar, adalah memaknai.
Dan hibernasi kadang berada di warung kopi.
Di antara kepulan asap rokok, harum sengatan kopi tubruk, dan pembicaraan yang berlarian. Yang melompat ke sana dan kemari.
Tapi, faktanya, kegundahan, kegalauan, keresahan, kadang terpecahkan di sini.
Karena ada kebebasan. Kebebasan berpikir, kebebasan menyampaikan argumentasi. Perdebatan yang tidak perlu banyak logika.
Saya pun mengalaminya.
Ketika kerumitan seolah enggan pergi, saya kerap menghabiskan sisa malam di warung kopi ujung jalan Radio Dalam.
Ada kegilaan pada dominasi merah warung itu.
Tapi dua kali undakan saya lahir di atas bangku kayu, ruang penuh asap, ujung jalan Radio Dalam.
Lalu tadi malam, dengan merajut banyak keluh, kecemasan dan keresahan menulis para wartawan muda, saya mencoba menawar sebuah ide.
“Saya ingin punya tempat peristirahatan. Tapi bukan tempat beristirahat biasa. Tapi tempat orang mendapat nilai tambah.”
Lalu mengalir lagi kisah lahan dua hektare, antara Jakarta dan Bogor. Tanah masa depan yang kini, ditanami pohon kayu.
“Insya Allah, 2014 panen besar. Saya ingin uang itu sebagai bekal kedua putri saya sekolah.”
Nominal angka sembilan dijit, kalau saya tidak salah berumpama. “Cukup hingga keduanya kuliah.”
Dan saya enggan meneruskan rutinitas tempat kerja saya.
“Saya ingin pergi. Menulis. Di tempat2 tersembunyi.”
Lalu saya keluarkan sebuah buku, berisi brosur tempat2 yang sebagian akan saya datangi.
“Dan ketika saya pulang, semoga pohon2 kayu itu telah kembali panen. Saat itulah, saya ingin membangun tempat istirahat. Tempat berhibernasi, bagi mereka yang ingin bisa menulis.”
“Sekolah wartawan?” dia bertanya.
“Bukan. Terlalu tertekan mengajar wartawan lagi menulis. Cukup untuk mereka yang ingin menulis, apa saja, di ruang maya…”
Dan semuanya, saya tetapkan di sini. Di warung kopi penuh asap, ujung jalan Radio Dalam.

UncategorizedMarch 2, 2010 7:19 pm

Ini cerita sederhana, ketika suatu malam, saya pulang bersama dua rekan perempuan.
Dalam perjalanan, kami berbincang mengenai banyak hal, yang awalnya tak jauh-jauh dari soal dunia kerja kami sebagai wartawan.
Pembicaraan dimulai dari Rubrik Anak, yang kerap mengisi edisi akhir pekan.
‘Bagaimana Kalau Anak Susah Makan’, ‘Bagaimana Kalau Anak Rewel’, antara lain isi dari rubrik tersebut.
Karena saya satu-satunya yang sudah memiliki anak (dua putri) di mobil itu, maka saya yang getol mengomentari artikel-artikel itu.
“Kalau saya, hampir enggak pernah membaca artikel-artikel seperti itu. Pasalnya, kalau baca artikel soal anak, saya sering takut sendiri,” kata saya.
“Terus, Mbak gimana kalau anaknya susah makan?” tanya salah satu dari mereka.
“Ajak ke restoran. Mereka kan juga orang. Bisa aja jenuh sama makanan atau suasana rumah. Jadi, jurus jitu gue, ya itu,” jawab saya ringan.
Lalu kalau anak rewel, sambung saya, ya diajak main. Kalau masih rewel juga, ajak muter sebentar. Kalau masih ‘eror’ juga, ya bawa ke dokter. Mungkin gigi nya tumbuh, atau ada badannya yang keseleo gitu lah.
“Pokoknya, Alhamdulillah, saya enggak pernah ngalamin anak susah, deh…,” tegas saya.
Tapi sejenak kemudian, kalimat itu justru membuat saya terdiam.
“Kenapa Mbak?” tanya salah satu rekan saya lagi.
Emmm, jawab saya, tapi mungkin sebentar lagi saya bisa ngalamin, ya!
Pasalnya, urai saya, usai hari raya tahun ini, suster yang mengasuh anak bungsu saya, pamit mau keluar. Dia berencana menikah.
“Padahal, suster saya itu, sudah empat tahun bekerja di rumah saya. Bahkan, si bungsu, sangat dekat dengan suster saya itu.
Sampai-sampai, tidur harus dengan Mbak Encus, bangun tidur harus lihat wajah Mbak Encus…Pokoknya semua Mbak Encus,” kata saya berapi-api.
“Nah, kalau sudah begitu, kiamat deh!” ujar saya.
“Cari gantinya aja, Mbak,” saran salah satu rekan saya, yang sejak awal hanya menyimak.
“Yah, enggak semudah itu. Kalau anaknya mau. Ini perkara anak tiga tahun, dia enggak suka, ya nangis!” ujar saya.
Kalau begitu, bagaimana dong? tanyanya.
“Yah, kayanya butuh artikel: Tips Mengganti Pengasuh Anak….,” ujar saya setelah merenung sejenak.
“Hahaha…Kalau begitu, rubrik seputar urusan anak, tetap dibutuhkan dong!” ledek rekan saya.
Yayaya…., pikir saya, mungkin saya selama tidak pernah butuh artikel soal mengurus anak, karena punya ‘orang’ yang bisa diandalkan.
Entah, setelah dia berhenti nanti. Jangan2 saya jadi pembaca setia Rubrik Anak….Hmf….

UncategorizedFebruary 24, 2010 8:33 pm

Sayangku, sudahlah…
Kita sudahi saja 1.000 hari perjalanan ini
Bukankah kita memang tak sedang menuju kemana-mana?
Jadi, sudahi saja
Aku sudah tak ingin bersamamu
Tak kau sadarikah?
Dan tak lama lagi, sudah ingin kututupi kepalaku, rambutku, telingaku, dengan kerudung itu
Jadi, sudahlah
Jangan ditangisi
Jangan disesali
Kita memang tak sedang menuju kemana-mana
Dan, aku memang sudah tak ingin bersamamu….
Bukankah kita memang tak sedang menuju kemana-mana?
Jadi, sudahi saja
Aku sudah tak ingin bersamamu

UncategorizedFebruary 14, 2010 3:32 pm

Mereka terus bertanya,
Kapan aku berhenti mencintaimu?
Sederhana, di hari aku bisa menemukamu lagi
Itulah waktunya aku berhenti mencintaimu

UncategorizedFebruary 13, 2010 6:52 pm

Kelak kaubaca kata-kataku mengucap ngilu

Mengabarkan masa-masa penuh tikai

juga nyeri luka orang-orang tercinta yang jatuh terbantai

Setiap kali sepi mengepung begini aku ingin direngkuhnya,

melekapkan kepala di dada, menyimak debur sungai

di balik bukit-bukit landai

Kelak kaubaca kata-kataku mengeja rindu

Kuseru namanya berulang kali dengan desir darah dalam nadi

Aku dicintai,

aku dilukai

Siapakah di antara kalian tak kepayang

pada tubuhnya yang tembus pandang

Kelak kaubaca kata-kataku menjerit sakit

mengingat kami bukan lagi serajut bait

Setiap ruang terasa sempurna lengang

dan kata-kataku selimbung dengung kumbang

Sayap-sayap kataku hendak merengkuhnya, mengembang

dan ia mengerosong jadi bayang-bayang

Lalu waktu kembali membentuk tubuhnya yang bening

ketika kami telah saling pangling

Aku tak lagi mampu menyentuh, sebagaimana dulu kami bersirengkuh

kata-kataku mencari rujukan demi sekedar tautan

Ajal. Kami tak lagi saling kenal

sebagaimana sebelum ia makna

dan aku kata

Aku bukan bagian darinya, ia bukan bagian dariku

Betapa lengang ruang, betapa laju waktu

Kelak kaubaca kata-kataku mengucap gagu

jika ia, yang kaucinta, tak kautemu dalam diriku

:: Sitok Srengege, 2001 ::

UncategorizedFebruary 10, 2010 5:23 pm

: Soe Hok Gie

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”